Mesin mobil menderu pelan, membelah aspal jalan tol yang terasa lebih panjang dari biasanya. Ada rasa lelah yang menggelayut, tapi entah mengapa, setiap kali melihat papan penunjuk jalan ke arah kota kelahiran, semangat itu mendadak penuh kembali. Inilah dimulainya "Ritual Tahunan" yang paling ditunggu yaitu mudik ke kampung halaman (Purwokerto). Perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah prosesi pulang untuk menjemput kembali potongan-potongan kenangan yang sempat tertinggal di hiruk-pikuk kota.
Sesampainya di kampung halaman masih di bulan puasa, suasana puasa terasa berbeda sekali dengan di perantauan. Menyempatkan buka puasa bersama dengan teman sekolah, sekaligus mengenang masa-masa saat masih bersama di sekolah, menghidupkan kembali sisi diri kita yang mungkin sempat terlupakan.
Pagi buta di hari kemenangan, suasana kampung halaman terasa begitu sakral. Gema takbir bersahutan dari pengeras suara masjid kayu tempat saya belajar mengaji dulu. Mengenakan baju koko terbaik, saya melangkah menuju masjid bersama warga lainnya. Ada aroma tanah basah dan sisa embun yang menemani langkah kaki. Melaksanakan sholat Idul Fitri di sini selalu terasa berbeda; suasananya jauh lebih hangat dan intim dibandingkan dengan sholat di masjid besar di perantauan.
Begitu salam terakhir diucapkan, suasana haru sekaligus bahagia langsung pecah. Di halaman masjid, tidak ada lagi sekat antara si kaya dan si miskin, atau mereka yang sukses dan yang biasa saja. Kami semua saling berjabat tangan dengan tetangga kanan-kiri. Tawa renyah dan ucapan "Mohon Maaf Lahir dan Batin" mengalir deras. Melihat wajah-wajah familiar yang kini mulai menua, saya tersadar bahwa waktu memang terus berjalan, namun kebersamaan ini tetap abadi.
Momen paling menguras emosi tentu saja saat kembali ke rumah dan bersimpuh di hadapan Ibu. Ritual sungkem adalah puncak dari segala perjalanan jauh ini. Di hadapan beliau, semua ego dan jabatan yang saya bawa dari kota luruh seketika. Tangis pecah saat beliau membisikkan doa dan maaf, sebuah momen yang selalu berhasil membersihkan hati dari segala penat dan dosa setahun belakangan.
Momen ini juga menjadi ajang merajut kembali tali silaturahmi yang sempat merenggang oleh jarak dan kesibukan. Berkumpul bersama saudara di ruang tengah sembari berbagi tawa, hingga bertemu kembali dengan teman-teman lama untuk mengenang masa kecil, menghidupkan kembali sisi diri kita yang mungkin sempat terlupakan di hiruk-pikuk kota.
Tidak lengkap rasanya jika ritual ini tidak diakhiri dengan mengunjungi "rumah masa depan". Saya melangkah pelan menuju pemakaman umum untuk berziarah. Di depan pusara saudara yang telah mendahului dan para leluhur, duduk tenang dan mengirimkan doa. Wangi bunga mawar dan melati yang baru ditabur bercampur dengan aroma tanah, menciptakan keheningan yang damai. Momen ini menjadi pengingat paling jujur bahwa sejauh apa pun kita pergi, pada akhirnya kita akan kembali ke bumi yang sama.
Ritual tahunan ini akhirnya harus berakhir seiring dengan matahari yang mulai terbenam. Meskipun koper harus kembali dipacking dan mobil harus kembali menempuh kemacetan, ada energi baru yang terisi penuh di dalam dada. Pulang ke kampung halaman bukan hanya tentang merayakan lebaran, tapi tentang menemukan kembali jati diri dan alasan mengapa kita harus terus berjuang di perantauan. Sampai jumpa lagi tahun depan, kampung halamanku tercinta, semoga masih dipertemukan.
![]() |
| Sehat semua yaa.., sampai jumpa lagi.. |










0 Comments
Posting Komentar