Suara takbir yang berkumandang, aroma opor ayam mulai tercium dari dapur dan diluar rumah deru mesin kendaraan yang memadati jalanan lintas provinsi. Semua jadi tanda musim mudik ke kampung halaman telah tiba. Bagi ribuan perantau di negeri ini lebaran bukan sekedar hari raya keagamaan, melainkan sebuah ritual pulang ke akar, kembali ke pelukan kampung halaman masing-masing.
Tak lama lagi kita akan bertemu momen seperti diatas, semoga kita dalam keadaan sehat semua dan masih dipertemukan dengan momen tersebut. Mudik seringkali berlalu begitu cepat. Dalam hitungan hari, kita harus kembali ke realita, kembali ke tanah rantau masing-masing. Disini peran kamera, baik kamera DSLR, kamera mirrorless atau kamera smartphone menjadi sangat krusial. Memotret saat mudik bukan perihal pamer di media sosial, melainkan upaya membekukan waktu yang tak mungkin terulang kembali sama persis.
Mengapa Memotret Suasana Kampung Halaman?
Kampung halaman merupakan entitas yang dinamis. Sawah yang dulu tempat kita bermain layang-layang mungkin tahun depan sudah menjadi perumahan. Kakek, nenek dan orang tua kita semakin menua, keponakan-keponakan serasa tumbuh dengan cepat.
Memotret saat-saat lebaran di kampung halaman adalah cara sederhana untuk merawat ingatan kita. Sebuah foto sederhana tentang tangan ibu yang sedang mengaduk opor ayam di dapur atau tawa lepas ayah saat bersama tetangga saat bersenda gurau di sore hari bisa menjadi harta karun emosional di masa depan.
Objek Menarik untuk Diabadikan
Seringkali kita bingung apa yang harus kita potret selain foto keluarga besar saat kumpul. Sepertinya beberapa ide dibawah ini bisa dicoba untuk memperkaya cerita visual mudik teman-teman:
1. Human Interest dan Emosi Candid
Kurangi terlalu banyak foto berpose "tu,wa,ga..senyum..hahaa", coba ganti memotret secara candid (diam-diam).
- Momen Sungkeman : Fokus pada ekspresi wajah, tetesan air mata haru atau erat genggaman tangan saat prosesi maaf-memaafkan.
- Interaksi Lintas Generasi : Memotret saat kakek/nenek sedang memangku cucunya, atau saat para sepupu bermain kembang api bersama.
- Kesibukan Dapur : Dapur bisa diibaratkan sebagai jantung persiapan lebaran. Asap yang mengepul, tumpukan piring, kebersamaan dan gotong royong memasak adalah momen yang sangat estetik dan bercerita.
Buat yang mudik ke daerah pedesaan atau pegunungan, manfaatkan keindahan alam yang jarang ditemui di tempat rantau/ kota.
- Pagi Hari di Hari H Lebaran : Suasana jemaah berjalan kaki menuju lapangan atau masjid untuk menunaikan shalat Ied. Beruntung jika terdapat latar belakang, gunung, kabut tipis atau matahari terbit, akan menghasilkan foto yang magis.
- Arsitektur Lama : Rumah nenek dengan dinding kayu, ubin tegel lama atau jendela kayu kusam memiliki tekstur yang fotogenik.
Jangan abaikan detail kecil yang membangun suasana.
- Toples nastar yang mulai kosong, kaleng biskuit jadul, dll.
- Deretan sandal yang berserakan di depan pintu rumah saat open house.
- Detail anyaman ketupat.
1. Manfaatkan cahaya alami, waktu terbaik adalah pagi hari dan sore hari saat cahaya matahari sedang lembut-lembutnya membuat bayangan objek tidak terlalu keras.
2. Komposisi dan Framing. Gunakan bingkai alami misalnya memotret suasana halaman rumah dari balik jendela, atau memotret jalanan di kampung halaman diantara dua pohon besar.
3. Bercerita dengan Serial Foto. Mengupload foto ke sosial media dengan rangkaian cerita (photo story), mulai dari foto perjalanan, puncak acara (shalat Ied dan kumpul keluarga) hingga perpisahan sebelum kembali ke tanah rantau/ kota.
4. Jangan lupakan diri sendiri. Seringkali kita si tukang motret tidak masuk dalam frame dokumentasi, mintalah tolong kepada saudara untuk memotret kebersamaan anda dengan keluarga, atau gunakan tripod dan timer. Pastikan teman-teman menjadi bagian dari sejarah visual tersebut.
Letakan Kamera, Rasakan Momennya
Meskipun memotret dirasa penting, jangan biarkan lensa kamera menjadi penghalang antara anda dan keluarga. Ada kalanya kamera harus disimpan. Nikmati opor ayamnya, mendengar cerita saudara yang berulang tiap tahunnya itu, serta tertawa lepaslah bersama semuanya.
Abadikan momen secukupnya, hadirkan hati seutuhnya. Sejatinya lensa terbaik adalah mata, memori terbaik adalah hati.
Selamat merangkai kenangan.
Semoga kita semua disehatkan selalu, dipertemukan kembali dengan lebaran mendatang, aamiin.






0 Comments
Posting Komentar